Wisata alam dekat kota Manado 2

Waruga Sawangan

Masyarakat suku Minahasa tempo dulu punya satu tradisi untuk penguburan jenasah. Jenazah dimakamkan dalam sebuah kubur batu yang dipahat berukuran 2×2 meter, dengan tinggi sekitar 2 meter. Masyarakat suku Minahasa menyebutnya dengan nama waruga.

Waruga adalah kubur batu yang mempunyai bentuk seperti kubus dengan tutup berbentuk segitiga yang menyerupai bubungan rumah. Padan bagian atap yang berbentuk segitiga terdapat pahatan yang berbentuk simbol-simbol yang menggambarkan jenazah yang dikuburkan dalam waruga tersebut.

Bagian bawah waruga yang berbentuk kubus merupakan ruangan tempat meletakan jenazah. Jenazah orang yang telah meninggal diletakan dalam posisi menghadap ke utara dan dalam posisi bersujud atau berjongkok.

Suku Minahasa jaman dulu menguburkan jenazah dalam waruga tidak hanya satu orang tetapi kadang beberapa orang atau satu keluarga. Jadi ukuran panjang dan lebar  waruga yang satu tidak selalu sama dengan ukuran waruga yang lain.

Banyak waruga yang bisa kita temui di tanah Minahasa, antara lain di desa Talawaan, Airmadidi, Rap-rap, Sawangan dan di desa-desa lain. Karena memang masyarakat suku Minahasa telah menggunakan waruga mulai abad ke-9.

Tetapi ada satu tempat di Minahasa ditemukan waruga dalam jumlah yang cukup banyak, yaitu di desa  Sawangan. Ada 144 waruga ditemukan di situs purbakala desa Sawangan.  Desa Sawangan termasuk dalam kecamatan Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara.

Warga suku Minahasa telah menggunakan waruga sebagai makam, bahkan dari abad ke-9. Padahal pembuatan waruga ini cukup sulit karena dibuat dari batu besar yang keras, kemudian dipahat sehingga terbentuk ruangan di tengahnya.

Banyak waruga di tanah Minahasa yang ditemukan tanpa pahatan  simbol-simbol ditutupnya sehingga diperkirakan umur waruga sudah sangat tua. Pada tahun 1860, pemerintah Belanda yang pada jaman itu mengusai Indonesia melarang penggunaan waruga sebagai makam.

Pemerinta Belanda berpendapat bahwa pemakaman dengan menggunakan waruga menyebabkan menyebarnya penyakit tipus dan kolera. Baru mulai saat itu masyarakat suku Minahasa tidak lagi membuat waruga dan menggunakan peti mati sebagai pengganti waruga untuk tempat jenazah.

Taman purbakala waruga Sawangan menjadi cagar budaya yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Memang mengunjungi taman waruga jauh dari kesan anker atau menyeramkan karena bentuk waruga yang memang unik dan tidak terlihat seperti kuburan.

Di dekat taman purbakala Sawangan juga berdiri rumah adat suku Minahasa yang difungsikan sebagai museum benda-benda purbakala. Kita bisa menemukan berbagai peninggalan zaman dahulu seperti  alat makan, perhiasan, berbagai perabot, hingga alat perang ada di dalam museum.

Taman  waruga Sawangan letaknya tidak jauh dari kota Manado. Tidak sulit untuk datang ke sini, dari Manado hanya berkendara ke arah kota Bitung. Membutuhkan waktu 45 menit berkendara dari pusat kota Manado untuk datang ke lokasi ini.

Arung Jeram Sawangan

Tidak jauh dari situs cagar budaya Waruga Sawangan kita dapat menemukansatu lokasi wisata yang memacu adrenalin. Bagi orang-orang yang senang berpetualang ini lokasi yang pas yaitu wisata arung jeram Sawangan.

Meluncur dengan perahu karet di arus sungai yang deras memberikan perasaan berdebar-debar. Denyut jantung dipacu setiap melewati  bebatuan yang besar, jeram yang curam dengan arus yang deras berputar.

Di desa sawangan, Minahasa Utara, terdapat sungai yang karakteristiknya sangat baik untuk lokasi olahraga arung jeram. Nama sungainya adalah sungai Sawangan sesuai dengan nama kampung di mana sungai ini mengalir.

Sungai sawangan memiliki lintasan jeram yang baik sehingga membutuhkan skil yang hebat untuk menaklukan jeram di sungai ini. Terdapat dua area start di sungai ini. Area pertama berada di PLTA Tenggari, dan yang ke-dua di River Park Sawangan.

Tingkat kesulitan lintasan arung jeram di sini cukup tinggi. Harus melewati bebatuan dengan pusaran air yang deras, benar-benar akan memacu adrenalin setiap orang yang ikut di perahu. Sekali lagi ini olahraga bagi yang senang tantangan.

Jika start dari PLTA Tanggari maka pengunjung harus punya skil yang baik dalam mengendalikan perahu. Terdapat 2 titik jeram yang berkelanjutan yang akan membuat jantung berdebar saat meluncur dan mengandalikan perahu di arus air yang deras.

Jika star dari River Park sawangan maka jarur flat akan lebih sering dijumpai. Jeram yang tinggi-tinggi tidak akan banyak ditemui, sehingga untuk pemula disarankan mengambil titik start di River Park Sawangan.

Jarak tempuh jeram ini jika start dari titik PLTA Tanggari sekitar 12 kilometer, sedangkan dari tiitik star River Park hanya sekitar 6 kilometer. Jika debit air tinggi maka mengarungi sungai ini akan sangat menantang karena arusnya yang deras.

Sungai Sawangan lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk, sehingga sangat mudah untuk menemukan lokasi arung jeram sawangan. Jika berkujung ke lokasi ini sebaiknya berkelompok sehinggga memungkinkan untuk menyewa satu perahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *